PDAM Sragen akan Ambil Air dari 3 Waduk di Soloraya

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Sragen akan mengambil air baku dari tiga waduk besar di wilayah Soloraya untuk diolah menjadi air bersih. Pengolahan air permukaan tersebut dilakukan untuk mengatasi krisis air bersih di sejumlah wilayah Bumi Sukowati, khususnya di utara Bengawan Solo.

Penjelasan itu disampaikan Direktur Utama PDAM Tirtonegoro Sragen, Supardi, saat ditemui solopos.com di Gedung DPRD Sragen, Rabu (16/1/2019). Tiga waduk yang dimaksud Supardi tersebut terdiri atas Waduk Kedung Ombo (WKO) di areal Sragen, Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, dan Waduk Gondang di Karanganyar. Dia menjelaskan surat izin pengambilan air (SIPA) di WKO sudah turun pada 2018 lalu. Dia menyampaikan PDAM Sragen diizinkan mengambil air WKO sebanyak 150 liter per detik. “Kami baru menyiapkan DED [detail engineering design] untuk pengolahan air WKO pada 2019. Rencananya kami akan membangun reservoar di wilayah Ngargotirto, Sumberlawang, yang setiap tahunnya selalu kekurangan air bersih. Kemungkinan untuk operasional pelayanan air dari WKO itu baru terlaksana 2020-2021,” ujarnya. Supardi menargetkan hasil pengolahan air WKO akan mampu melayani 15.000 sambungan rumah di wilayah Sumberlawang, Miri, Gemolong, dan sebagian Tanon. Selama ini pelayanan di wilayah Sumberlawang, Gemolong, dan Tanon masih mengandalkan sumur dalam yang ke depannya tidak bisa diandalkan. Sementara di Kecamatan Miri, kata dia, belum tersentuh pelayanan PDAM.

Selain dari WKO, Supardi berencana juga menggunakan air baku dari WGM Wonogiri lewat pembelian air curah yang dikelola Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB) milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Dia menjelaskan pengelolaan air baku WGM ini dikelola PDAB seperti di wilayah Bregas untuk pelayanan Tegal hingga Slawi. “Nantinya PDAB ini nanti menyediakan air olahan yang diperuntukkan bagi sejumlah daerah di Soloraya dengan sebutan Wosusokas [Wonogiri, Sukoharjo, Solo, Karanganyar, dan Sragen]. Untuk pembangunan intake tahap I untuk pelayanan Wonogiri, Sukoharjo, dan Solo sudah dimulai 2019 ini. Untuk Sragen nanti bersama Karanganyar masuk tahap II, yakni pada tahun 2023 mendatang,” jelasnya. Dia menerangkan kuota untuk Sragen dari WGM ada 100 liter per detik. Air itu nantinya untuk pelayanan di wilayah Masaran dan Sidoharjo sekitar 10.000 sambungan. Nanti untuk harga airnya perlu ada pembicaraan dengan Pemerintah Provinsi Jateng.

Kemudian pengolahan air baku selanjutnya, kata dia, diambilkan dari Waduk Gondang di Karanganyar yang baru selesai dibangun Pemerintah Pusat. Dia mengatakan PDAM Sragen juga mendapat alokasi air 100 liter per detik yang nantinya diolah di Mojokerto, Kedawung, Sragen.

Air olahan dari Waduk Gondang ini, kata dia, diperuntukkan bagi warga Kecamatan Sambirejo, Kedawung, dan Karangmalang sebanyak 10.000 sambungan. “DED untuk pengolahan air dari Waduk Gondang sudah selesai. Untuk pembuatan instalasi air mulai dari intake sampai ke pengolahan air di Sragen dibangun oleh pemerintah pusat dengan dana Rp141 miliar. Nah, Sragen menyediakan dana pendamping untuk pembangunan sarana dan prasarana dari pengolahan sampai ke pelayanan pelanggan. Dana pendamping itu diambilkan dari dana penyertaan modal,” tutur Supardi. Supardi optimistis pengolahan air baku dari Waduk Gondang efektif bisa terlaksana pada 2020 mendatang. Dia menjelaskan pada 2019 baru pengisian air di Waduk Gondang dan 2020 baru tersedia air yang memadai. Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan sumbangan air dari tiga waduk itu cukup signifikan untuk mengatasi krisis air di wilayah utara Bengawan Solo. Dia mengatakan keberadaan air di Waduk Gondang tidak hanya untuk air bersih tetapi juga untuk kebutuhan irigasi pertanian di wilayah Sragen.**(sumber solopos.com)

19,149 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Print Friendly, PDF & Email